Saturday, September 19, 2015

Setiap orang pasti mempunyai  keinginan. Ketika kita kecil, seringkali kita ditanya oleh orang dewasa, ”Apa  yang kamu ingin kan saat sudah besar nanti?”.Sebagian besar teman-teman saya menjawab ingin jadi dokter, astronot, pilot, guru, dan lain-lain. Diantara sekian banyak jawaban, tidak ada yang menjawab ingin menjadi pembuat film.  Hingga pada tahun  2006 (saya masih umur 10 tahun), saya menonton film “Petualangan Sherina”. Film inilah yang membuat saya mengatakan bahwa  ke ingin saya adalah ingin membuat film seperti itu.

Setelah film “Petualangan Sherina”, tidak lama kemudian tayang film “ AADC”, “Eiffel I’m in Love” yang mendapat perhatian besar dari penonton film Indonesia.  Film-film tersebutlah yang membuat saya semakin tertarik akan dunia film. Ketika itu, saya berpikir betapa hebatnya sebuah film hingga bisa membawa saya terhanyut ke dalam dunia orang lain yang saya tidak kenal.  Saya bisa ikut merasakan kesal, sedih, kecewa, bahagia, tertawa, dan sebagainya terhadap cerita yang dialami sang tokoh. 

Menjadi sutradara sangatlah sulit, mengapa aku bisa mengatakan hal seperti itu ? aku merasa untuk menjadi sutradara hal yang harus pertama sekali aku lakukan adalah menulis. Menurut pandangan diriku sendiri, menjadi sutradara adalah salah satunya harus pandai menulis dan mengarang sebuah cerita.  Aku harus pandai mencari situasi dan berkhayal dalam pikiran kemudian aku tulis ke dalam sebuah catatan.  Atau, aku harus mencari sebuah tragedi singkat seseorang kemudian aku akan bertanya tentang kisahnya.  Sekarang ini pun aku tidak pandai untuk menulis bahkan mengarang suatu cerita yang fiksi atau non-fiksi.  Sepertinya aku butuh seorang guru yang bisa mengajari aku menulis dan mengarang.

Begitu lulus SMA (tahun 2015), saya berniat untuk masuk sekolah film di IKJ. Namun orang tua saya melarang.  Alasannya?  Klasik.  Kata mereka, ”Mau hidup apa dari seni?  Mau jadi Arbeitslosigkeit ?”. Saya bingung ketika orang tua saya mengatakan seperti itu.  Keluarga besar saya sama sekali tidak ada yang terjun di dunia seni.  Hampir semua keluarga besar saya berjiwa PNS, Akmil dan Wirausaha (membuka bisnis sendiri).  Mungkin hanya saya di keluarga besar saya yang tertarik terjun ke dunia film. Saya sempat sedih karena tidak mendapat dukungan dari orang tua untuk meraih ke inginan saya. Akhirnya saya mengalah dan memilih untuk masuk ke salah satu univ swasta jurusan ilmu komunikasi yang berada di kawasan Surabaya.

Jika waktu kecil saya masih bingung mau jadi produserkah, sutradarakah, pemainkah, dan sebagainya, masuk dunia kuliah saya sudah yakin bahwa ke inginan saya adalah menjadi sutradara . Meskipun tidak bisa kuliah di IKJ dan orang tua saya tidak mendukung saya menjadi sutradara tapi saya tetap optimis, Semangat , Selalu berdoa kepada ke Allah agar orang tua mendukung  saya suatu nanti. Waktu semester IV kan nanti ada Peminatan Komunikasi Media dan Komunikasi Korporasi, saya nanti mau mengambil yang Komunikasi Medianyaa karena saya mau ambil bagian yang  menggunakan fotografinya. Tetapi Kedua orang tua saya tidak setuju  Karena saya mengambil konsentrasi Medianyaa , Saya disuruh orang tua saya mengambil Korporasi  tapi saya tidak menyukainyaa Karena saya tidak begitu suka sama dunia mc dan kalo saya berbicara di depan panggung mesti gemetaran/ ngebleng.

 Dan akhirnya kedua orang tua saya mengerti kekurangan sehingga setuju  dengan pilihan saya, Alhamdulillah doa saya diijabahi oleh ALLAH SWT.



Mata Kuliah Manajemen
Fakultas Ilmu Komunikasi
Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
2015




No comments:

Post a Comment