Setiap orang pasti mempunyai keinginan. Ketika kita kecil, seringkali kita
ditanya oleh orang dewasa, ”Apa yang
kamu ingin kan saat sudah besar nanti?”.Sebagian besar teman-teman saya
menjawab ingin jadi dokter, astronot, pilot, guru, dan lain-lain. Diantara
sekian banyak jawaban, tidak ada yang menjawab ingin menjadi pembuat film. Hingga
pada tahun 2006 (saya masih umur 10
tahun), saya menonton film “Petualangan Sherina”. Film
inilah yang membuat saya mengatakan bahwa ke ingin saya adalah ingin membuat film
seperti itu.
Setelah film “Petualangan Sherina”, tidak lama
kemudian tayang film “ AADC”, “Eiffel I’m in Love” yang mendapat
perhatian besar dari penonton film Indonesia. Film-film tersebutlah yang
membuat saya semakin tertarik akan dunia film. Ketika itu, saya berpikir betapa
hebatnya sebuah film hingga bisa membawa saya terhanyut ke dalam dunia orang
lain yang saya tidak kenal. Saya bisa
ikut merasakan kesal, sedih, kecewa, bahagia, tertawa, dan sebagainya terhadap
cerita yang dialami sang tokoh.
Menjadi sutradara sangatlah sulit, mengapa aku bisa
mengatakan hal seperti itu ? aku merasa untuk menjadi sutradara hal yang harus
pertama sekali aku lakukan adalah menulis. Menurut pandangan diriku sendiri,
menjadi sutradara adalah salah satunya harus pandai menulis dan mengarang
sebuah cerita. Aku harus pandai mencari
situasi dan berkhayal dalam pikiran kemudian aku tulis ke dalam sebuah catatan.
Atau, aku harus mencari sebuah tragedi
singkat seseorang kemudian aku akan bertanya tentang kisahnya. Sekarang ini pun aku tidak pandai untuk
menulis bahkan mengarang suatu cerita yang fiksi atau non-fiksi. Sepertinya aku butuh seorang guru yang bisa
mengajari aku menulis dan mengarang.
Begitu lulus SMA (tahun 2015), saya berniat untuk masuk
sekolah film di IKJ. Namun orang tua saya melarang. Alasannya? Klasik. Kata mereka, ”Mau hidup apa dari seni? Mau jadi Arbeitslosigkeit ?”. Saya bingung
ketika orang tua saya mengatakan seperti itu. Keluarga besar saya sama sekali tidak ada yang
terjun di dunia seni. Hampir semua
keluarga besar saya berjiwa PNS, Akmil dan Wirausaha (membuka bisnis sendiri). Mungkin hanya saya di keluarga besar saya yang
tertarik terjun ke dunia film. Saya sempat sedih karena tidak mendapat dukungan
dari orang tua untuk meraih ke inginan saya. Akhirnya saya mengalah dan memilih
untuk masuk ke salah satu univ swasta jurusan ilmu komunikasi yang berada di
kawasan Surabaya.
Jika waktu kecil saya masih bingung mau jadi produserkah,
sutradarakah, pemainkah, dan sebagainya, masuk dunia kuliah saya sudah yakin
bahwa ke inginan saya adalah menjadi sutradara . Meskipun tidak bisa kuliah di
IKJ dan orang tua saya tidak mendukung saya menjadi sutradara tapi saya tetap optimis,
Semangat , Selalu berdoa kepada ke Allah agar orang tua mendukung saya suatu nanti. Waktu semester IV kan nanti
ada Peminatan Komunikasi Media dan Komunikasi Korporasi, saya nanti mau mengambil
yang Komunikasi Medianyaa karena saya mau ambil bagian yang menggunakan fotografinya. Tetapi Kedua orang
tua saya tidak setuju Karena saya mengambil
konsentrasi Medianyaa , Saya disuruh orang tua saya mengambil Korporasi tapi saya tidak menyukainyaa Karena saya
tidak begitu suka sama dunia mc dan kalo saya berbicara di depan panggung
mesti gemetaran/ ngebleng.
Dan akhirnya
kedua orang tua saya mengerti kekurangan sehingga setuju dengan pilihan saya, Alhamdulillah doa saya
diijabahi oleh ALLAH SWT.
Mata Kuliah Manajemen
Fakultas Ilmu Komunikasi
Jurusan Ilmu Komunikasi
Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
2015
No comments:
Post a Comment